Kuningan - Pembinaan lansia dapat dilakukan melaui kegiatan bina keluarga lansia (BKL) yaitu kegiatan yang dilakukan oleh keluarga yang m...
Kuningan - Pembinaan lansia dapat dilakukan melaui kegiatan bina keluarga lansia (BKL) yaitu kegiatan yang dilakukan oleh keluarga yang memiliki lansia atau sudah menjadi lansia untuk memahami dan membina kondisi serta masalah lanjut usia guna meningkatkan kesejahteraanya.
Dengan kata lain kegiatan bina keluarga lansia (BKL) merupakan salah satu program dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar lansia secara keseluruhan baik kebutuhan fisik, psikis, sosial, spiritual maupun kebutuhan ekonominya.
Hal itu diungkapkan Kepala DPPKB Kabupaten Kuningan, Dra. Hj. Poppy N Puspitasari dalam acara Bina Keluarga Lansia (BKL), pada Rabu (27/02/2019) bertempat di Gedung Pertemuan Kelurahan Cijoho Kuningan.
Pemberdayaan ekonomi keluarga merupakan suatu proses atau kegiatan ekonomi (bekerja atau berusaha) yang merupakan salah satu unsur kesejahteraan keluarga. Pemberdayaan ekonomi keluarga merupakan salah satu yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat untuk memantapkan keberhasilan program Keluarga Berencana.
"Usaha pemberdayaan ini sejalan dengan undang-undang no 10 tahun 1992 bahwa tujuan akhir gerakan kb bukan hanya keluarga kecil tetapi juga keluarga sejahtera yang mencakup ekonomi keluarga," katanya.
Salah satu gerakan pemberdayaan ekonomi keluarga yang identik dengan Keluarga Berencana adalah program UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera). Program uppks semula bernama UPPKA-KB yang dimulai sejak tahun 1976.
Program ini awalnya diarahkan untuk meningkatkan ketahan ekonomi keluarga ekonomi akseptor, kemudian berganti nama menjadi uppks dengan sasaran yang lebih luas yaitu keluarga akseptor dan bukan akseptor. pada prinsipnya program UPPKS adalah suatu usaha untuk meningkatkan fungsi ekonomi keluarga dalam rangka mewujudkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS).
Tujuannya diselenggarakan acara ini adalah untuk menyampaikan informasi kepada kader Bina Keluarga Balita (BKB) untuk lebih meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran dalam membina tumbuh kembang balita melalui rangsangan fisik, motorik, kecerdasan, sosial, emosional serta moral yang berlangsung dalam proses interaksi ibu dan anggota keluarga lainnya dengan anak balita.
"Intinya kader BKB harus lebih menekankan pada penyelenggaraan kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan potensi anak secara optimal. Dalam hal ini selain asupan gizi dan kesehatan yang baik, juga diperlukan pola pengasuhan yang tepat," pungkasnya.
Sedangkan kepada kader bina keluarga lansia (BKL) diarahkan bagaimana caranya agar dapat menciptakan lansia yang tangguh. Lansia yang sehat lahir bathin, terpenuhi kebutuhan hidupnya baik secara spiritual, ekonomi, sosial dll sekaligus juga berdaya guna, bermanfaat bagi lingkungan sekitar meskipun usia sudah tidak muda lagi. (DS)
