PENSIUN ITU NIKMAT Oleh ; Drs. D. RUSYONO, M.Si. Masa pensiun adalah sebuah keniscayaan bagi seorang aparatur (baik...
Oleh ; Drs. D. RUSYONO, M.Si.
Masa pensiun adalah sebuah keniscayaan
bagi seorang aparatur (baik ASN, TNI / Polri termasuk karyawan yang lain
sesuaiaturan) yang telah memasuki batas usiapensiun (BUP), artinya tidak bisa dihindari
dan pasti adanya. Tetapi dalam kenyataan tidak sedikit orang menghadapi masapensiun
seperti menghadapi suatu yang aneh disertai kekhawatiran bahkan ibarat sebuah kehidupan
yang baru, padahal itu merupakan episode lanjutan dari sebuah kehidupan.Oleh karena
itu dalam menghadapinya perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat
menjadi media kontemplasi diri.
Pensiun itu sendiri secara umum dapat diartikan
adalah “Seseorang yang sudah tidak bekerja
lagi karena usianya sudah lanjut dan harus diberhentikan, baik atas permintaan sendiri
(pensiunmuda) maupun karena sudah masuk batas usia yang ditentukan dengan masih
menerima haknya dalam bentuk dana pensiun / pesangon sampai meninggal dunia”.
(wikipedia, ensiklopedia).
Maka sesuai dengan kodratinya mauti dakmau, sukati daksuka seorang abdi negara apabila sudah waktunya memasuki batas usia pensiunya harus berhenti, tentunya mudah-mudahan secara terhormat dan dihargai baik secara yuridis maupun sosial.
Maka sesuai dengan kodratinya mauti dakmau, sukati daksuka seorang abdi negara apabila sudah waktunya memasuki batas usia pensiunya harus berhenti, tentunya mudah-mudahan secara terhormat dan dihargai baik secara yuridis maupun sosial.
Kiranya ada beberapa hal yang yang dapat
dijadikan bahan inspirasi dalam menghadapi / memasuki masa pensiun, antara lain
dalamajaran Islam dikenal:
1.
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu
hanyalah berkata kepadanya “JADILAH”, maka terjadilah ia” (Q.S. Yaasiin : 82).
2. “Demi masa sesungguhnya manusia ada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati
untuk kebenaran dan kesabaran” (Q.S.
Al-‘Asr : 1-3).
3.
Sedang
dalam membangun karakter dikenal istilah “Manusia mengukur waktu dan menghayat nilai”.
Artinya manusia dapat mengukur waktu, dan waktu pun dapat mengukur manusia.
Dalam hal ini terkandung makna bahwa hanya dalam busur waktu manusia membentuk dirinya
menjadi manusia yang sesungguhnya dalam ruang dan waktu secara nyata sepanjang hayatnya.
Selanjutnya sang waktu menanti apakah manusia mampu mengukurnya atau pun memfasilitasinya
dan memposisikan dirinya melalui alur waktu, dalam peribahasa Italia disebut dengan“I’oumail
tempo, eil tempo misuraI’ouma”.
Adapun manusia sebagai pengghayat nilai adalah
kemampuan untuk menimbang dan menilai perjalanan masa lalunya. Pengalaman masa lalu
menjadi rantai panjang bagi makna hidupnya di masa sekarang untuk melanjutkan peran,
tugas dan fungsinya demi generasi yang akan datang, agar menjadi sebuah rantai bahagia
dan sejahtera sekaligus bermanfaat bagi sesama. Dalam istilah Taspen adalah “Tiada kata pensiun untuk berkarya”, tentunya
dalam arti luas dan bersifat situasional.
Hal di atas mengandung
makna yang dalam antara lain :
-
Bahwa
apapun yang Allah kehendaki (dalam segala aspek) maka pasti jadilah, termasuk
di dalamnya mengatur / mengurus perjalanan hidup seseorang dalam ruang dan waktu
dan dalam berbagai aktivitas yang dilakoninya serta dalam kondisi berpasang-pasangan
seperti ada siang dan malam, ada suka dan duka, ada pimpinan dan anak buah dan sebagainya.
- Bahwa
dalam dunia kepegawaian, maka ada masanya datang atau memulai dan ada masanya berakhir
atau dikenal dengan PENSIUN
/ Purna
Bakti / Purna Tugas. Apapun namanya hakekatnya adalah selesai atau berhenti.
- Bahwa
manusia berpacu denga nwaktu, barangsiapa dapat menguasai waktu, maka akan menguasai
kehidupannya.
Perlu
Tata Kelola yang baik
Dalam menjalani masa pensiun juga harus
dikelola (dimanaje) dengan baik, karena kalau tidak biasanya akan bermunculan hal-hal
yang mengagetkan terutama pada aspek adaptasi dan kebiasaan (adaptifhabitualis).
Selanjutnya beberapa hal
yang dapat dilakukan dalam menjalani masa pensiun antara lain sebagai berikut :
1. Mensyukurinya
Karena pensiun termasuk konteks kenikmatan / anugerah,
maka harus mensyukurinya, sebagaimana Q.S. Ibrahim ayat 7 yang artinya kurang lebih “Barang siapa mensyukuri nikmat, maka Allah
akan menambah nikmat tersebut, tetapi barang siapa mengingkarinya atau kufur nikmat,
maka azab Allah yang amat pedih.
2. Waktuadalahibadah.
Karena pensiun juga sebagai masa menjalani sisa
hidup di hari tua, maka tanamkan sikap bahwa WAKTU ADALAH IBADAH, jadikan masapensiun sebagai wahana untuk memperbaiki
hidup, setiap desah nafas harus bernilai ibadah, karena secara syari’at pensiun
hanya sebatas berhenti mengabdi secara formal dalam ruang dan waktu, tetapi secara
hakiki aktivitas hidup harus terus berjalan seiring dengan hayat dikandung badan,
dalam bingkai amarma’ruf nahyi munkar sehingga hidup dalam kemanfaatan (khoerunnas
anfauhu mlinnas).
3. Bangun Keserasian
Guna membangun keserasian antara suasana lama
dimasa bekerja dengan suasana baru dimasa purnakerja, maka usahakan beraktivitas
sosial-psikologis di lingkungan tempat tinggal, di lingkungan komunitas yang bermanfaat
dan maslahat. Contoh usahakan gemar ke mesjid, karena di mesjid tempat terjalinnya
integrasi sosial kemasyarakatan yang paling handal, baur dengan warga dsb.
4. Mengikuti Kegiatan Sosial Kemasyarakatan.
Kemudian apabila memungkinkan sebagai tambahan
bisa ikut serta pada kegiatan kelembagaan sosial kemasyarakatan yang organisasi
dan pola kerja non formal tetapi tidak perlu dipaksakan / memaksakan)
5. Hindari gejala yang
mengarah kepada munculnya post power syndrome, karena tidak jarang
akan mengganggu indahnya masa pensiun bahkan tidak jarang berakhir dengan
fatal.
6. Jaga kesehatan,
dengan olah raga yang sesuai (olah raga ringan) dan makan / minum dengan pola gizi
seimbang.
Sebagaimana hal di atas, maka kata kunci dalam menjalani masa pensiun adalah
“mensyukuri dan menjalani apa adanya disertai habluminallah dan habluminanas
secara seimbang”.
Sebagaimana hal di atas, maka kata kunci dalam menjalani masa pensiun adalah
“mensyukuri dan menjalani apa adanya disertai habluminallah dan habluminanas
secara seimbang”.
Tetapi semua akan berpulang kepada pribadi masing-masing.
Akhir kata kebaikan datang dari Allah, kesalahan datang dari kelalaian manusia
(penulis) dan hanya kepada Allah kita memohon ampun.
(*Penulis adalah Pensiun Sekretaris DPPKB Kab. Kng).-
