KUNINGAN MARKA - Kisah drama sang pencuri keropak Mesjid yang nyaris di hakimi ratusan massa warga Desa Cikaso, Kecamatan Kranatmulya ber...
KUNINGAN MARKA - Kisah drama sang pencuri keropak Mesjid yang nyaris di hakimi ratusan massa warga Desa Cikaso, Kecamatan Kranatmulya berujung dua orang korban kakak dan adiknya, warga Desa Cikubangsari, Kabupaten Kuningan Jawa Barat di gelandang ke Mapolres Kuningan.
Kisah dramatis yang terjadi Selasa mala (2/6/2020) ini harus dialami oleh VAS (26) tersangka pelaku pencuri keropak Mejsid Daarul Falah Desa Cikaso yang nyaris di hakimi massa, selang 15 menit tengah petugas Polsek mebawa Bandit Ke Mapolres, tiba-tiba terjadi lagi keributan yang diawali oleh Vi (18) yang ternyata adik kandung Bandit Keropak tersebut, Vi tidak terima kakanya dijadikan bulan bulanan massa, dan mencoba membelanya, namun lumpuh oleh massa dan diamankan ke Balai Desa.
Semula warga Desa Cikaso menahan untuk tidak di Polisikan dulu, namun setelah pihak Kades Cikaso dan Kades Cikubangsari serta keluarga tersangka datang menengok warganya, dan bernegosiasi akhirnya bentuan keamanan dari Polsek serta beberapa anggota Koramil Kuningan kota datang.
Tim pengendalian massa dari Polrespun di turunkan dikengkapi senjata laras panjang guna mengamankan peristiwa penghakiman tersangka tersebut, Selasa malam sekira pukul 21.00 WIB di Alun alun Desa Cikaso bagaikan pasar malam, massa datang dari berbagai arah mengepungnya, petugas Kepolisianpun kewalahan menahan amuk massa pertama dan evakuasi kedua kalinya.
Pengakuan tersangka kepada media ini tidak singkron dengan penuturan saksi yang memergoki langsung tersangka mengacak acak kotak amal tersebut. "saya pulang dari teman di Jalaksana, lalu mampir ikut shallat Isya di mesjid, saya tidak ada niat mengambil kotak amal itu, dan ini kali pertama nelakukannya," aku Vik kepada awak media ini di ruangan Balai Desa.
Sementara keterangan pengurus Mesjid Daarul Falah Cikaso Uri, pihaknya merasa ada yang tidak wajar di tempat kotak amal, berantakannya Alqur'an dan sedikit berubahnya posisi kotak amal, ketika akan melaksanakan shalat duhur, "saya mengajak salah seorang temannya untuk kegiatan meronda nanti malam, karena ada unsur ciriga di posisi kotak amal.
Dan ternyata dugaan Uri benar, malamnya terjadi mesjid yang diurusnya itu di satroni bandit keropak, sekira pukul 8.30 usai jemaah melaksanakan shalat isya bubar namun ketika akan beres beres tiba tiba mendengan suara mencurigakan, telihat seseorang di dalam mesjid tengah menuju pintu keluar.
"Hey kamu siapa, ngapain kamu? tanya Uri. Tersangka menjawab "habis ikut shallat Isya," kata Uri menirukan jawaban tersangka. Setelah kecurigaan Uri yakin, di luar Mesid Uri mencari teman untuk menahan tersangka, dan ketika sedang cekcok, datanglah H Toto yang melihat tersangka membuka kotak amal dari arah Rumahnya, lalu H Toto bertindak mengambil KTP dan terjadi cekcok lagi, massa berdatangan danvdigiring ke Balai Desa.
Ternyata dugaan Uri dan H Toto itu benar tersangka yang membuka kotak amal itu, namun dalam perjalanan proses pengamanan dari mesjid ke Balai Desa massa marah besar ketika mendengar orang tersebut pelaku pencuri kotak amal, hingga pemykulanpun tak terelakan.
Tersangka ditahan oleh aparat keamanan desa, Babinsa dan Kades Cikaso Hidayar, lalu Kades minta bantuan Polsek dan tidak lama beberapa anggota datang dan Asyar salah seorang abggota Polsek Kramatmula menanyai tersangka, sambil menunggu datangnya Kapolsek.
Lebih parahnya lagi adiknya yang bersikap sok jagoan mengamuk di kerumunan massa, "Yang membuat kami lebih memanas dari sikap adiknya itu, gayanya petentang petenteng sambil menggerutu, kayak jagoan aja, ya jelaslah kami tersiggung, jika keduanya tidak segera diamankan petugas bisa bisa mampus kedua duanya tuh," teriak masyarakat dalam kerumunan. (UU)