Oleh; Drs. D. Rusyono, M.Si.(derus)* Perjalanan panjang Indonesia (termasuk Kabupaten Kuningan di dalamnya) melaksanakan pembanguna...
Oleh; Drs. D. Rusyono, M.Si.(derus)*
Perjalanan panjang Indonesia (termasuk Kabupaten Kuningan di dalamnya) melaksanakan pembangunan kependudukan, diantaranya telah berhasil mengubah struktur umur penduduk yang ditandai dengan menurunnya kelahiran dan kematian serta diiringi dengan meningkatnya usia harapan hidup. Secara prinsip pembangunan kependudukan adalah sebagai upaya yang dilakukan dalam rangka untuk menjamin keberlansungan hidup seluruh manusia, dan Pembangunan Kependudukan merupakan program pembanguna nsosial yang sangat penting disamping pendidikan dan kesehatan (Wilopo, 1996).
Karena struktur umur berubah, maka proporsi anak jadi mengecil dan proporsi usia kerja jadi meningkat, karena semula bertumpu pada usia tidak produktif, sekarang menjadi bertumpu pada usia produktif, sekaligus rasio ketergantungan antara jumlah anak dan orang tua dibanding dengan jumlah penduduk usia produktif pun menjadi menurun, artinya korelasinya positif. Rasio Ketergantungan sendiri adalah rata-rata usia produktif menanggung beban dari usia tidak produktif, apabila beban tertanggungnya kecil, maka itulah hakikat bonus demografi terjadi, walaupun masih harus dilihat pula berbagai aspek pendukungnya.
Terciptanya Bonus Demografi
Terciptanya bonus demografi diawali dengan transisi demografi, yaitu kondisi angka kematian dan kelahiran yang dari semula sama-sama tinggi, dalamj angka panjang berangsur menjadi turun dan rendah serta diiringi dengan peningkatan usia harapan hidup (UHH) yang secara perlahan penduduk usia lansia juga meningkat.
Di Indonesia dimulai ketika angka kematian bayi menurun terlebih dahulu baru kemudian diikuiti dengan penurunan angka kelahiran.
Transisi Demografi di Indonesia disebabkan oleh campurtangan pemerintah dengan memperkenalkan Keluarga Berencana diberingi dengan peningkatan kesehatan, sedangka di negara-negara Eropa lebih bercirikan atas keinginan dari kaum ibu sendiri untuk membatasi kelahirannya (Sri Moertiningsih Adioetomo, 2018).
Sementara ada pendapat lain tentang transisi demografi yang pada dasarnya sama tetapi lebih menekankan kepada aspek yang mempengaruhinya, dimana kalau di kawasan Eropa lebih berkaitan dengan sosial ekonomi, sedangkan di kawasan negara berkembang berkaitan dengan efektivitas penggunaan obat-obatan modern dan anti biotika (Ida Bagus Mantra, 1985).
Penurun anangka kelahiran dan kematian yang terus menerus, serta diikuti berbagai dampak positif pada berbagai aspek kehidupan, maka disitulah hakikat bonus demografi diraih. Bonus Demografi (Demographic Divident) sendiri adalah dampak perubahan struktur umur penduduk suatu bangsa, yang semula strukturnya bertumpu pada usia tidak produktif bergeser pada usia produktif, sehingga akan berdampak positif terhadap perubahan ekonomi dikarenakan jumlah anak yang sedikit disertai pendidikan yang tinggi akan membantu meningkatkan generasi berkualitas dan produktivitas secara makro (Sri Moertiningsih Adioetamo, et al. 2018).
KondisiEksistingKab.Kuningan
Jumlah penduduk 1.074.497 (BPS, Kuningan Dalam Angka 2018 dan RPJMD 2018-2023), terdiri dari Laki-laki 540.181 dan perempuan 534.316 dengan rasio 101,10. Berdasarkan komposisi umur terdiri dari usia 0-14 th 265.446 (24,70 %), usia 15-64 th 712.377 (66,30 %) danusia 65+ 96.674 (9,00 %), sehingg a rasio ketergantungan (defedency ratio) 50,80. Hal ini masih cukup tinggi meskipun level tengah, artinya rata-rata setiap 100 orang usia produktif masih menaggung 50,8 orang usia tidak produktif. (Nasional 49,20dalam SUPAS 2015).
Sementara peserta KB aktif pada tahun yang sama adalah 156.729 atau 71,31 % dari PUS yang ada 219.773, dengan didominasi oleh Non MKJP sebesar 109.921 atau 70,14 % sehinggarawan DO. Sedangkan TFR nya 2,46dan LPP 0,48 (BPS dalam SP 2010).Kemudian rata-rata usiakawinpertama (UKP) wanita 18,2thsertarata-rata usiaharapanhidup (UHH) 73,11 th.
PeluangdanTantangan
Untukhal yang menyangkut peluang antara lain political will dari pemerintah dan stakeholder cukup kuat diantaranya banyak dasar hukum yang memayungi program dankegiatan. Kemudian Juga dilakukan rebranding program KB dengan Bangga Kencana dari mulai logo sampai perluasan jangkauan dalam beyond family planning sehingga jangkauannya tidak hanya KB semata melainkan aspek perbaikan gizi, peningkatan pendapatan keluarga, ketahanan keluarga dan sebagainya yang mendukung program KB, dengan tagline/slogan “Berencana itu Keren, Dua Anak Lebih Sehat, termasuk Bebas Dari Ketidak berdayaan (burden of disease)”.
PeluangdanTantangan
Peluang yang dapat mendukung dalam teraihnya bonus demograf iantara lain :
- Political will dari pemerintah menguat dengan adanya arah kebijakan pembangunan berwawasan kependudukan yang berkelanjutan, sekaligus tercover dalam SDGs (Sustainable Development Goals).
- Adanya revisi untuk usia kawin pertama (UKP) wanita dari semula minimal 16 tahun berubah menjadi 19 tahun, sebagaimana tercantum dalam UU Perkawinan yang baru No.16 Tahun 2019.
- Rebranding program KKBPK dengan kemasan / tagline Berencana Itu Keren, 2 Anak Lebih Sehat dengan segala aspeknya.
- Mobilitas program Bangga Kencana secara terkoordinasi, terintegrasi dan tersinkronisasi (people centered development), sehingga pemahaman dan kesadaran masyarakat semakin meningkat.
- Tingkat produktivitas semakin terbuka dan panjang karena disertai dengan usia harapan hidup (UHH) yang meningkat (Kuningan 73,01th).
Sedangkan tantangan yang dihadapi (Kab.Kuningan) meliputi ;
- Masih tingginya rata-rata beban ketergantungan (50,80) setiap 100 orang usia produktif menanggung beban 50,80 orang usia tidak produktif.
- Tingginya tingkat pengangguran terbuka 8,99 (BPS Kuningan Dalam Angka 2018) sebagai dampak dari tingginya usia produktif angkatan kerja.
- Masih tingginya peserta KB aktif dengan metoda non MKJP 70,14 %, sehingga rawan terjadinya drop out.
- Rata-rata usia kawin pertama (UKP) wanita masih18,2 tahun.
- Merasa aman dengan LPP 0,46 sementara TFR masih 2,46.
- KB masih dianggap investasi yang non profit.
- Kelembagaan dengan nomen klatur gabungan dalam bentuk Dinas Pengendalian Penduduk KB Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) dan ditataran hulu masih setingkat badan (belum kementerian).
- Menunggu hasil Sensus Penduduk 2020 sebagai salahsatu media evaluasi KB.
Menuju Bonus Demografidan Indonesia Emas
Gunamemetik bonus demografidan Indonesia Emas, salahsatunya perlu pemetaan strategi sebagai upaya, antara lain melalaui perencanaan yang terarah dan terukur seperti RPJP dan RPJMD secara berkesinambungan sampai dengan 2045 Indonesia Emas (100 Tahun Kemerdekaan), dengan catatan siklus kesertaa nber KB masyarakat secara estapet generasi terus terbina dan terpola termasuk dalam peningkatan pendewasaan usia perkawinannya.
Hal ini sekaligus seiring dengan arah kebijakan RPJMN / Renstra BKKBN 2020-2024 sbb :2020-2021 merupakan tahap sinergitas program dengan TFR 2,30. Kemudian periode 2022-2023 tahap penguatan dengan target TFR 2,20 dan 2024-2025 tahap pemantapan pembangunan dengan target TFR 2,1. Hal ini termasuk sampai Indonesia Emas 2045 TFR 2,1 dapat dipertahhankan, artinya setiap PUS hanya punya anak 2 dengan generasi ibu 1, atau minimal 2 anak lebih sehat dapat terwujud atau melembaga dan membudaya di masyarakat.
Untuk di tataran daerah seperti Kab.Kuningan tentunya menyesuaiakan dan mendukung dengan disinkronisasikan dengan kebijakan daerah.
Kesimpulan
Intidari Bonus Demografi adalah membentuk manusia berkualitas, tetapi harus dilihat secara komprehensif dan perlu waktu yang cukup panjang, karena bonus tersebut tidak akan terjadi secara serta merta tetapi harus diiringi dengan usaha keras untuk meraihnya, disertai kesiapan dan kebijakan yang tepat untuk memanfaatkannya seperti berbagai sarana-prasarana, seperti sektor industri, pendidikan dan sebagainya, karena kalau tidak berimbang bonus demografi akan lewat begitu saja bahkan tidak mustahil malah akan menambah persoalan yang ada.
Semoga Bonus Demografi dapat dinikmati, AAMIIN YRA.
(*Penulis adalah anggota Perkumpulan Juang Kencana (PJK) Kab.Kuningandan Dosen pada STIKes Kuningan).
