KUNINGAN, koranmarka.com - Kepala SMPN yang berlatar belakang dari guru penggerak belum memahami sepenuhnya tentang interaksi ke...
Kepala SMPN yang berlatar belakang dari guru penggerak belum memahami sepenuhnya tentang interaksi kemitraan dengan pers, walaupun telah dijelaskan secara detail oleh sejumlah awak media tetapi mindset-nya masih belum mengerti keseluruhan.
Seperti yang terjadi di SMPN 2 Cimahi, Kabupaten Kuningan, tiga wartawan senior datang ke sekolah tersebut dengan tujuan konfirmasi. Awalnya awak media disambut baik, namun setelah awak media menawarkan pemasangan iklan, Mila, S.Pd menolaknya dengan alasan sekolah yang dipimpinnya merupakan sekolah kecil yang artinya jumlah siswanya masih sedikit.
Menurut Irwan Dirgantara, ST, dari awak media online Benang Merah kepada media Koran Marka (25/1) mengatakan, ia sudah menjelaskan panjang lebar tentang interaksi kemitraan antara kepala sekolah dengan media, namun Mila, S.Pd (selaku Kepala SMPN 2 Cimahi Kab. Kuningan) masih kurang memahami bentuk kemitraan seperti apa dan juga belum mengerti manfaat bagi sekolah bagaimana.
“Seharusnya Kepala SMPN 2 Cimahi minta pendapat dari ketua gugus SMP Luragung bagaimana langkah terbaik ketika akan dikonfirmasi oleh sejumlah wartawan. Jangan sampai mengambil sikap dengan cara memberikan amplop yang tidak jelas untuk apa penggunaannya,” ujar Irwan dengan sikap kecewa.
Sejumlah awak media berharap kepada rekan-rekan kepala sekolah yang berasal dari guru penggerak untuk berkonsultasi dengan gugusnya ketika akan berhadapan dengan rekan pers, jangan sampai tindakannya menyinggung harga diri profesi media.
Terkait dengan kejadian di SMPN 2 Cimahi, sejumlah awak media kemudian menghubungi Kadisdik Kab. Kuningan Uu Kusmana, S.Sos, M.Si, secara kebetulan pejabat tersebut sedang melaksanakan tugas luar. (Ton,s)