_*SAAT ANAK DITUNTUT ORANGTUA DI PENGADILAN*_Oleh : _Ibnu Hajar Mahbub_ 

Pagi itu pada beberapa hari yang lalu, Pengadilan Negeri Semarang seperti biasa dipenuhi hiruk-pikuk pengunjung. Diantara kerumunan orang ya...





Pagi itu pada beberapa hari yang lalu, Pengadilan Negeri Semarang seperti biasa dipenuhi hiruk-pikuk pengunjung. Diantara kerumunan orang yang menunggu giliran, tampak seorang lelaki tua menggenggam selembar foto copy surat pengaduan. Lelaki itu bernama _Sastro Wijoyo_ yang telah mengajukan gugatan terhadap anaknya beberapa hari yang lalu. 

_*"Bapak Sastro Wijoyo?"*_. Panggil petugas pengadilan.

Lelaki itu mengangguk pelan, lalu berjalan memasuki ruang sidang. 

Hakim Ketua yang akan memutus perkara ini bernama _Bambang Suryanto_ didampingi dua hakim anggota 

Hakim : _*"Silakan duduk, pak. Bapak mengajukan gugatan terhadap siapa?"*_ 

Sastro : _*"Maaf, Pak Hakim, saya menggugat anak saya sendiri. Namanya Arya Satria Wijoyo"*_. 

Hakim : _*"Baik, Pak Sastro, bisa dijelaskan, apa tuntutan Bapak?"*_

Sastro : _*"Sederhana saja, pak. Saya minta anak saya memberi nafkah bulanan kepada saya sesuai kemampuannya"*_.

Hakim : _*"Oh, itu hak bapak, kok. Secara hukum dan agama, anak wajib memberi nafkah kepada orang tua. Tidak perlu diperdebatkan lagi, apalagi sampai dibawa ke pengadilan*_. 

Sastro : _*"Tapi, Pak Hakim, saya sebenarnya mampu. Saya punya tanah warisan, punya rumah, punya tabungan"*_.

Hakim : _*"Lalu maksud Bapak apa?"*_. 

Sastro : _*"Saya cuma minta uang jajan dari anak saya, pak. Berapapun, terserah dia. Yang penting ada"*_.

Hakim : _*"Baiklah, kami akan memanggil anak Bapak. Tolong sebutkan alamatnya"*_ 

Beberapa hari kemudian, sidang kedua digelar. Kali ini _Arya Satria_, pria berusia empat puluhan hadir di persidangan.Di sampingnya, Pak Sastro, sang ayah sebagai penggugat duduk berdampingan. 

_*"Saudara Arya Satria Wijoyo?"*_. Hakim ketua membuka sidang. 

Arya : _*"Benar, Pak Hakim"*_. 

Hakim : _""Apakah Bapak Sastro ini ayah Saudara?"*_

Arya : _*"Iya, pak. Beliau bapak saya"*_. 

Hakim : _*"Bapak Saudara mengajukan gugatan, meminta nafkah bulanan dari Saudara. Apa tanggapan Saudara?"*_.. 

Arya mengangkat wajahnya, menatap ayahnya sebentar, lalu kembali ke hakim sambil berkata : 
_*"Pak Hakim, saya bingung. Bapak punya uang, rumahnya besar, di Jalan Pandanaran. Punya sawah di Ungaran, beberapa kios di Johar juga. Kenapa tiba-tiba minta nafkah dari saya?"*_.. 

Hakim Ketua menoleh ke Pak Sastro, _*"Bagaimana, Pak?"*_

Sastro : _""Memang begitu, Pak Hakim. Tapi ini hak saya sebagai bapak, kan? Dan saya cuma minta sedikit"*_.

Hakim : _*"Berapa yang bapak minta?"*_ 

Sastro : _*"Lima puluh ribu saja"*_.

Hakim : _*"Lima puluh ribu sebulan, apa cukup, pak?"*_.

Seluruh ruangan terhenyak. Lima puluh ribu? Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk makan sehari di kota seperti Semarang.

Arya geleng-geleng kepala. _*"Pak Hakim, ini aneh. Lima puluh ribu itu apa artinya, bahkan untuk ongkos ojek saja kurang"*_.

Sastro : _*"Tapi itulah maunya ayah dan ayah minta diserahkan langsung. dari tangan kamu ke tangan ayah untuk tiap bulan. Tanpa perantara"*_.

Pak Hakim mulai memahami sesuatu.
_*"Baiklah. Majelis hakim telah mendengar keterangan dari kedua pihak"*_ 

Kemudian pak Hakim mengetuk palu pelan. _*"Kami memutuskan: tergugat, Arya Satria Wijoyo, wajib memberikan nafkah bulanan kepada ayahnya, Sastro Wijoyo, sebesar lima puluh ribu rupiah, diserahkan langsung dari tangan ke tangan, setiap tanggal lima, seumur hidup ayahnya tanpa perantara. Sidang ditutup"*_.

Sang anak terdiam, sementara sang ayah mengangguk pelan, tangannya gemetar saat menerima salinan putusan.

Sebelum mereka berdiri, Pak Hakim menyela sambil mengangkat tangan. _*"Tunggu dulu, Pak Sastro, boleh saya bertanya sesuatu?"*_.

Silakan pak Hakim ;
_*"Kenapa Bapak minta jumlah sekecil itu padahal Bapak sudah mempunyai kekayaan yang cukup lumayan?"*_.

Hening sesaat. Pak Sastro menarik napas panjang. Air matanya mulai membasahi pipi keriputnya.

_*"Pak Hakim, saya kangen sama anak saya. Sudah setahun lebih, kami tidak ketemu. Dia sibuk kerja, katanya. Telepon pun jarang. Padahal rumah kami cuma beda kelurahan. Saya tidak marah, Pak. Tapi hati saya sakit. Saya sudah tua. Entah berapa lama lagi saya bisa lihat wajahnya. Saya tidak butuh uangnya, Pak Hakim. Saya cuma butuh dia datang. Walau cuma sebulan sekali. Walau cuma lima menit ngobrol di teras sambil serahkan uang lima puluh ribu itu sudah cukup buat saya. Sudah cukup untuk bikin saya bahagia sampai bulan depan"*_.

Arya, sang anak akhirnya menangis. Ia bangkit, berlutut di depan ayahnya, memeluk kaki tua yang sudah mulai lemah itu.

_*"Maafkan saya, ayah. Maafkan Arya"*_.

Pak Sastro mengelus kepala anaknya dengan tangan yang gemetar. _*"Kamu tidak salah, Le. ayah cuma kangen"*_.

Ruang sidang dipenuhi isak tangis—bukan karena keadilan yang ditegakkan, tapi karena kerinduan yang terluka.

Teruntuk anak-anak yang masih mempunyai ORANGTUA, kadang yang paling mahal bukan uang, tapi waktu. Dan kadang, yang paling sakit bukan kemiskinan. Tapi dilupakan oleh orang yang dicintai. 

والله اعلم بالصواب

Pondok Aren 
Jum'at, 05 Desember 2025 
14 Jumadil Akhir 1447 H

Kontributor

Nama

.pemerintaha,5,.pemerintahan,81,234 SC,9,AFF 2018,4,Amin Santono,4,Aneka,117,Asean Games,1,Bara Nusantara,1,Bisnis,1,BNN,1,Bunda paud,1,Cirebon,5,Dana Desa,1,Demo,2,Desa Dukuhlor,1,desa pajambon,1,DPRD kuningan,3,Ekonomi,20,Fatwa,1,Gebyar 10001 Merah Putih,1,H Ujang Kosasih,1,Habib Rizieq,1,Haji,1,Hari Jadi Kuningan 520,2,Hari Pangan,1,Hot News,22,Hri Jadi Kuningan 520,1,Hukum,23,HUT PGRI,1,IPB,1,Jawa Barat,1,Jepang,1,Jokowi,3,Jurnalis,1,Kekerasan,3,KEMENAG KUNINGAN,1,Kesehatan,11,Ketua DPC PKB Kuningan,1,Korupsi,6,KPK,4,KPU,1,Kuningan,102,Kuningan Bercahaya,1,Ma'ruf Amin,1,MI PUI KUNINGAN,1,MR,1,MUI,1,Narkoba,2,Nasional,12,ODOJ,1,Olahraga,10,PAN,1,Partai Demokrat,2,Pekan Raya Kuningan,1,peme,1,Pemerintah,1,Pemerintaha,12,Pemerintahan,274,Pemilu 2019,4,Pendidikan,43,Pertanian,1,PKS,2,PMERINTAHAN,1,Politik,36,Politik Uang,1,PPP,1,Prabowo,1,PWI Kuningan,1,Rekor Dunia,1,Religi,1,Romahurmuziy,1,Saptonan,1,Skandal,1,smpn 1 kuningan,1,Smpn 6 Kuningan,1,Sosial Budaya,16,Stunting,1,Tasikmalaya,1,Timnas U-16,1,Tommy Soeharto,1,Vaksin,1,Wisata,1,Yosa Octora Santono,1,
ltr
item
Koran Marka: _*SAAT ANAK DITUNTUT ORANGTUA DI PENGADILAN*_Oleh : _Ibnu Hajar Mahbub_ 
_*SAAT ANAK DITUNTUT ORANGTUA DI PENGADILAN*_Oleh : _Ibnu Hajar Mahbub_ 
Koran Marka
http://www.koranmarka.com/2025/12/saat-anak-dituntut-orangtua-di.html
http://www.koranmarka.com/
http://www.koranmarka.com/
http://www.koranmarka.com/2025/12/saat-anak-dituntut-orangtua-di.html
true
7649270645801447767
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy