Kuningan– Koranmarka.com Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. membuka secara resmi kegiatan Konferensi Daerah...
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh DPD PPSI Kabupaten Kuningan sebagai agenda organisasi untuk memilih kepengurusan baru sekaligus merumuskan arah pembinaan pencak silat di Kabupaten Kuningan ke depan.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada para tokoh, sesepuh, dan seluruh paguron yang hadir. Ia menegaskan kecintaannya terhadap pencak silat tidak pernah luntur, serta memandang PPSI memiliki posisi strategis bukan hanya sebagai organisasi olahraga, tetapi juga sebagai benteng pelestarian seni budaya bangsa.
“Bagi saya, PPSI bukan sekadar organisasi bela diri, tetapi salah satu benteng terakhir pelestarian seni budaya bangsa. Tradisi tidak boleh dikelola secara tradisional. Kita butuh manajemen modern: program terukur, transparan, dan akuntabel,” tegasnya.
Bupati menilai tantangan pencak silat saat ini semakin besar, terutama di tengah ketertarikan generasi muda terhadap olahraga bela diri modern seperti Muay Thai, tinju, hingga MMA. Oleh karena itu, PPSI Kuningan dinilai harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Bupati juga menyinggung karakter Kuningan sebagai tanah para ksatria dan pendekar. Simbol kuda dalam identitas Kuningan, menurutnya, melambangkan ketangkasan, kelincahan, dan keberanian.
“Kuda Kuningan itu kecil-kecil tapi gesit, tangkas, lincah, dan pemberani. Hakikat seorang pendekar harus tercermin dalam pengelolaan PPSI: gesit, berani, tangkas, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia berharap pemimpin PPSI ke depan bukan sekadar menjadikan jabatan sebagai posisi tawar, tetapi benar-benar hadir dengan dedikasi dan kecintaan pada organisasi. Menurutnya, organisasi akan hidup apabila pemimpinnya menghidupkan program dan pembinaan, bukan sekadar mencari posisi.
Ke depan, Bupati mendorong agar PPSI Kuningan menyusun program realistis dan membumi, serta memperkuat pembinaan atlet melalui kegiatan rutin seperti festival dan kompetisi terstruktur (pasanggiri) secara berkala.
“Tanpa kompetisi rutin, atlet tidak punya alat ukur kemampuan. Lebih baik target kecil tetapi tercapai, daripada target besar hanya tinggal di atas kertas,” imbuhnya.
Lebih lanjut, pencak silat juga didorong untuk menjadi bagian dari pengembangan sektor pariwisata budaya. Menurut Bupati, atraksi pencak silat bisa ditampilkan secara rutin melalui kerja sama dengan hotel maupun pengelola tempat wisata, sehingga memberi dampak ekonomi bagi para pesilat dan organisasi.
Ia juga mengingatkan pentingnya sinergi melalui konsep pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, swasta, masyarakat, akademisi, dan media, agar PPSI semakin kuat dan maju.
Di akhir sambutannya, Bupati secara resmi membuka kegiatan KONFERDA sekaligus Pemilihan Ketua DPD PPSI Kabupaten Kuningan Periode
Umal