Cirebon-Koranmarka.com Insiden robohnya atap bangunan outdoor di SMA Negeri 1 Susukan, Kabupaten Cirebon, nyaris berubah menjadi...
Insiden robohnya atap bangunan outdoor di SMA Negeri 1 Susukan, Kabupaten Cirebon, nyaris berubah menjadi tragedi serius di lingkungan pendidikan. Peristiwa yang terjadi di area sekolah tersebut menyisakan kepanikan sekaligus keprihatinan, meski dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa.
Pada hari Rabu, 21 Januari 2026, sekitar pukul 14.45 WIB, cuaca di sekitar sekolah mendadak memburuk. Angin kencang yang datang tiba-tiba, disertai hujan gerimis dengan intensitas cukup kuat, menerjang area sekolah dan mengakibatkan atap bangunan outdoor roboh.
Bangunan yang ambruk diketahui merupakan atap berbahan besi dan baja ringan yang biasa digunakan sebagai area kegiatan luar ruangan siswa. Saat angin menghantam dari arah bawah ke atas, struktur atap tidak mampu menahan tekanan hingga akhirnya runtuh ke area lapangan sekolah.
Kepala SMAN 1 Susukan, Ukendi Andriyana, menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem menjadi faktor utama penyebab kejadian tersebut.
“Angin datang cukup kencang, menyapu dari bawah ke atas dan merobohkan atap bangunan outdoor,” ujar Ukendi kepada awak media, Kamis (22/1).
Pada saat kejadian, aktivitas belajar mengajar telah berakhir dan sebagian besar siswa sudah meninggalkan lingkungan sekolah. Namun, masih terdapat beberapa siswa yang berada di lapangan sekolah.
Siswa-siswa tersebut merupakan anak kelas X E yang rencananya akan melaksanakan latihan upacara bendera. Mereka tengah bersiap memulai kegiatan ketika atap bangunan outdoor tiba-tiba ambruk di sekitar area latihan.
“Alhamdulillah sebagian besar siswa sudah pulang. Hanya beberapa siswa yang masih di lapangan untuk latihan upacara,” kata Ukendi menjelaskan situasi saat peristiwa terjadi.
Dalam insiden tersebut, satu siswi bernama Ys dari kelas X E sempat tertimpa reruntuhan atap. Guru dan siswa lain yang berada di lokasi dengan sigap langsung memberikan pertolongan.
“Kami bahu-membahu mengangkat atap bangunan yang menimpa Ys. Alhamdulillah bisa segera dikeluarkan dan langsung dibawa ke rumah sakit,” tambah Ukendi.
Terkait informasi yang beredar luas di media sosial mengenai adanya guru yang meninggal dunia akibat tertimpa bangunan, pihak sekolah memberikan klarifikasi tegas. Ukendi memastikan informasi tersebut tidak benar.
“Almarhum memang memiliki riwayat penyakit jantung dan meninggal dunia setelah membantu proses evakuasi siswa. Jadi bukan akibat tertimpa bangunan” tegas Ukendi, merujuk pada guru Bahasa Inggris SMAN 1 Susukan, Danal Alam.
Kapolsek Susukan, IPTU Kelani, turut memastikan bahwa peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, hanya terdapat satu korban luka ringan tanpa cedera serius.
“Tidak ada korban jiwa. Satu korban mengalami luka ringan dan berdasarkan hasil rekam medis tidak ada luka serius” ujarnya.
IPTU Kelani menambahkan, bangunan outdoor yang roboh memiliki luas sekitar 20 meter dengan lebar 18 meter dan tinggi sekitar 15 meter. Pihak kepolisian bersama pihak sekolah masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti ambruknya bangunan tersebut.
“Kami masih mendalami kejadian ini untuk memastikan penyebab robohnya atap bangunan” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat serius bahwa keselamatan infrastruktur pendidikan tidak boleh dianggap sebagai urusan administratif semata, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan negara dalam melindungi setiap aktivitas belajar siswa, agar sekolah benar-benar menjadi ruang aman, bukan lokasi yang menyimpan potensi bahaya tersembunyi.
Leo